AyudyaadminAyudya 232 571 posts
Di-posting 7 September
Lounge

[#JadiBisaUpdateAsianGames] - Catatan Manis Asian Games 2018


Perhelatan akbar multieven Asian Games, resmi berakhir. Selama 16 hari, banyak momen berharga yang ditorehkan oleh atlet dari Tanah Air.

 

Sebelum ingatan kita luntur tentang gegap gempita opening ceremony (upacara pembukaan) Asian Games 2018, ada baiknya kita kembali mengingat momen apa saja yang terjadi selama 16 hari penyelenggaraan pesta olahraga empat tahunan tersebut. Mulai dari pembukaan yang berlangsung spektakuler di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, hingga perolehan medali emas yang melampaui target Indonesia, ada beberapa catatan yang menarik untuk disimak.

 

Masih begitu membekas tentang 'drama' dalam pembukaan Asian Games beberapa waktu lalu, selain dipenuhi oleh belasan ribu penari Ratoh Jaroeh, momen terbaiknya justru ada pada saat Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, yang disimulasikan melakukan akrobat menggunakan sepeda motor. Meskipun belakangan diketahui itu hanyalah diperankan oleh stuntrider, tetapi tetap saja itu merupakan hal yang begitu wah untuk dikenang.

 

Selain itu, ada sebuah momen yang paling berharga lainnya. Cabang olahraga Taekwondo putri, menjadi cabang olahraga yang mempersembahkan emas pertama untuk Ibu Pertiwi. Nama Defia Rosmaniar, atlet Taekwondo putri, langsung menjadi primadona seantero negeri. Namanya langsung meroket. Defia menjadi pembuka jalan bagi atlet-atlet lain untuk bersemangat meraih medali emas. 

 

Dalam penyelenggaraannya, Asian Games tahun ini juga diwarnai dengan adanya beberapa pemecahan rekor bagi dunia olahraga Indonesia. Setidaknya ada beberapa rekor yang terpecahkan, antara lain dari cabang olahraga bulutangkis, tenis, dan menembak.

 

Dari cabang bulutangkis, rekor yang terjadi adalah kesuksesan atlet putra Indonesia dalam membuat All Indonesian Final. Keberhasilan tersebut, dipersembahkan oleh ganda putra Indonesia yang diwakili oleh Marcus Gideon/Kevin Sanjaya dan Fajar Alfian/Rian Ardianto. Seharusnya, jika tunggal putera Anthony Ginting bisa mengalahkan Thienchen Chou (Taipei) dalam semifinal, ia akan bertemu dengan Jonatan Christie yang berhasil menundukan Kenta Nishimoto (Jepang).

 

Momen terakhir yang mempertemukan All Indonesian Final ini terjadi 14 September 1974 silam. Kala itu, empat atlet Indonesia beradu kemampuan di atas lapangan hijau untuk memperebutkan medali emas. Keempat atlet tersebut adalah Christian Hadinata/Ade Chandra dan Tjun Tjun/Johan Wahjudi. Di akhir pertandingan, pasangan Tjun-Tjun/Johan Wahyudi keluar sebagai pemenang dan berhasil mempersembahkan medali emas untuk Indonesia.

 

Selain badminton, ada rekor lain yang cukup mencengangkan. Indonesia berhasil meraih 10 medali emas dalam satu hari. Ini merupakan pencapaian yang luar biasa untuk civitas olahraga Tanah Air. Sepuluh medali tersebut, dipersembahkan oleh dua cabang, antara lain adalah pencak silat dan panjat tebing. Total delapan medali dari pencak silat, dan dua medali dari panjat tebing.

Adapun catatan menarik yang juga menghiasi jalannya Asian Games, adalah perolehan medali perak di cabang olahraga menembak. Muhammad Sejahtera Dwi Putra, berhasil meraih medali perak pada nomor running target campuran 10 meter putra Asian Games 2018. Momen menarik tersebut bukan melihat dari medali yang didapat oleh atlet terebut, melainkan dari sisi kurun waktu 30 tahun bagi Indonesia yang belum berhasil meraih medali apapun dalam cabang menembak.

 

Selanjutnya, di cabang olahraga tenis, Indonesia juga kembali mencatatkan sejarah barunya. Sama seperti cabang olahraga menembak, namun untuk cabang tenis ini, Indonesia telah melewati fase puasa medali selama 16 tahun, dimana terakhir kali Indonesia meraih medali emas lewat beregu putri yang dimainkan oleh Liza Andriyani, Wynne Prakusya, Wukirasih Sawondari, dan Angelique Widjaja. Namun di tahun ini, dalam Asian Games, ganda campuran yang diwakilkan oleh Christopher Rungkat/Aldila Sutjiadi sukses mempersembahkan emas untuk Indonesia.

 

Hal lain yang perlu diingat adalah perihal janji pemerintah untuk memberikan bonus bagi atlet yang mendapatkan medali. Bagi atlet yang merebut emas akan diberikan bonus Rp1,5 miliar, perak Rp500 juta dan perunggu Rp250 juta. Demikian juga untuk tim atau beregu yang mendapatkan emas (Rp750 juta/orang), perak (Rp300 juta/orang) dan perunggu (Rp150 juta). Bukan hanya atlet yang kecipratan bonus, para pelatih dan asisten pelatih juga mendapatkan bonus, bahkan kepada atlet yang tidak mendapatkan medali sekalipun tetap diganjar bonus, tentunya dengan nilai yang bervariasi. 

 

Di luar kelaziman, bonus tersebut diberikan sebelum penutupan Asian Games. Ini berbeda dari sebelumnya dimana pemberian bonus biasanya disampaikan paling cepat satu bulan pasca event berakhir. Alhasil, pada ahad kemarin (2/9), puluhan atlet terlihat hadir di Istana Negara untuk menerima bonus yang disampaikan oleh Presiden Jokowi dalam bentuk rekening tabungan yang dikeluarkan oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI).

 

Selain pencapaian gemilang tersebut, ada hal yang menurut kami yang sayang untuk dilewatkan. Salah satunya adalah nuansa pesta olahraga yang juga menjadi arena tamasya bagi keluarga. Karena, pada akhir pekan, pengunjung yang datang tidak hanya mereka yang ingin menyaksikan perhelatan akbar Asian Games, melainkan juga untuk wara-wiri di sekitar SUGBK yang dipenuhi dengan beberapa venue serta gimik-gimik menarik seperti zona Bhin-bhin, Kaka, dan Atung.

 

Gelaran akbar Asian Games resmi dinyatakan berakhir seiring padamnya api Asian Games yang menyala sepanjang kegiatan berlangsung. Banyak pihak memuji meski ada juga yang mengkritisi. Tapi layaknya sebuah pesta, semua pihak merasakan atmosfir kegembiraan yang luar biasa di hajatan 4 tahunan ini. Asian Games 2018 sukses mewujudkan Energy of Asia.


Sign In atau Register untuk berkomentar.
X
Registrasi Sekarang